Jumat, 16 Desember 2011

Manusia Kaca

Posted by Melinda Pradita at 06.36 0 comments
Aku ini kenapa?
Kadang begitu lihai menyembunyikan rasa
Kadang isi hatiku bisa dengan mudah terbaca
Aku ini kenapa?
Tertawa lepas sekencang-kencangnya
Sedetik kemudian menahan rasa marah di dada
Aku ini kenapa?
Memutuskan untuk tak acuh
Namun menangis ketika kau menjauh
Aku ini kenapa?
Seperti menjadi dua sosok yang berbeda
Seperti masih malas beranjak dewasa
Menjadi makhluk egois yang belum bisa berlapang dada
Aku manusia yang terbuat dari kaca
Menampilkan semua hal yang tak tertutup oleh warna
Menyambungkan ungkapan maya dan nyata.
Aku manusia yang terus saja sibuk menerka
Pada sisi mana aku hidup di dunia

Senin, 14 November 2011

:)

Posted by Melinda Pradita at 03.23 0 comments
"kamu bilang, kamu merasa sepi dan kedinginan.
lalu, bolehkah aku datang dan menghangatkan?"

Jumat, 11 November 2011

kamu, aku rindu

Posted by Melinda Pradita at 10.07 0 comments
" Jam berapa sekarang? Ayo tidur! Udah malem ini..."
" Nggak mau. Belum ngantuk."
" Emang lagi ngapain,sih? Ayolah, nurut sama aku... Nanti kamu sakit kalo tidur malem-malem terus..."

" Kamu ke Jawa Timur? Ke mana? Sama siapa? Ngapain?"
" Ke temen. Sendiri. Kok kamu tau?"
" Temen siapa? Ngapain? Kok nggak bilang sama aku???"

" Kamu lagi UTS, ya? Semangat! Jangan lupa makan..."
" Iya. Nanti dulu."
" Makan dulu... Nanti maag-nya kumat. Kalo udah makan, kan, belajarnya jadi lebih enak.."

" Lo, kok kamu malah jadi males belajar? Ayo dong, semangat... Kalo kamu ga semangat yang nyemangatin aku siapa? Aku besok kuis sama presentasi ini..."

" Jangan lupa, sholat, ya... Ngajinya udah?"
" Iya udah semua,kok."
" Pinteer... Kan kalo udah semua gitu jadi nggak ada beban lagi :)"

" Eh,aku tau kamu lagi marah, tapi barusan tante aku sms. Katanya jam 11 malem ini bakal ada radiasi apa gitu. Kalo bisa hp dimatiin, ya... Biar nggak kena radiasinya."

" Bapak kamu tukang 'nyeser ikan', ya?"
" Kok tau?"
" Karena kamu telah menjaring hatiku... Hahahahaha"


Kamu. Kamu. Kamu.
Sedang apa kamu di sana?
Cepat pulang.
Aku ingin cepat bertemu.

Kamu, aku rindu
* @RadioGalauFM: Jogja-Jakarta. Hati merana, jarak meraja.

Senin, 07 November 2011

Untukmu, Lelaki Kedua

Posted by Melinda Pradita at 00.26 4 comments
Belum genap setahun aku mengenalmu, tapi kisah tentangmu begitu erat membekas di kepalaku
Belum lengkap hatiku menuliskan namamu, kau selalu hadir tiap malam untuk memastikanku mengingatmu
Belum sempat aku mengucap terima kasih padamu, kau membantuku lagi tanpa menghiraukan siapa aku dan bagaimana masa laluku

Kau baik.
Sangat baik.
Untukku.
Atau untuk kita, jika memang kata itu akan terwujud nantinya.

Tapi aku tidak bisa
Aku tidak bisa bicara dan menatapmu seolah dalam diriku tidak terjadi apa-apa.
Aku tidak bisa berada di dekatmu tanpa punya jutaan rasa bersalah yang begitu mendera.
Aku tidak bisa melihatmu menatapku dalam dan menjanjikan kita akan baik-baik saja.
Dan aku tidak bisa membohongimu selamanya…

Kau baik.
Sangat baik.
Untukku.
Atau untuk kita, jika memang kata itu akan terwujud nantinya.

Aku suka berada di dekatmu, hanya itu saja.
Aku suka kita pernah berkenalan dan menjadi sedekat ini, itu saja.

Kau baik.
Sangat baik.

Tapi aku tidak bisa
Aku tidak bisa mengatakan ‘ya’ untuk sebuah kata cinta.
Aku tidak bisa berjanji untuk membantumu mewujudkan kata ‘kita’.
Dan aku tau aku berdosa jika harus membohongimu lebih lama.

Kamis, 03 November 2011

Senandung Ungu

Posted by Melinda Pradita at 03.07 0 comments
Hei, kamu.

Iya, kamu.

Kamu, yang berkacamata dan berkaus abu-abu. Yang selalu duduk di depanku dan dengan angkuh memamerkan kekarnya punggungmu. Yang tak pernah kukenali di masa lalu, namun kini menjadi pusat perhatianku. Kamu, yang mampu menghipnotisku dengan runtutan kata-kata dan senyum simpulmu. Yang membuatku tertegun kaku ketika melihatmu berjalan ke arahku.

Kamu, yang untuk kesekian kalinya tak pernah lelah memperhatikanku. Menghalangi langkahku hanya untuk mengatakan hal lucu yang selalu membekas di otakku. Mendengarkan pertanyaan bodohku dan menjawabnya dengan santun dan lugu.

Kamu, sosok dewasa yang entah mengapa terlihat begitu mempesona di mataku. Yang membuatku merindukan tatapan mata teduh dan menenangkan itu. Yang bisa membuatku tersenyum lucu melihat caramu menarik perhatianku.

Iya, kamu.

Kamu yang berkacamata dan berkaus abu-abu. Yang selalu menyempatkan diri menyapaku saat kita bertemu.

Terimakasih untuk percakapan menyenangkan itu.
Terimakasih untuk bersamaku di hari Minggu yang lalu.
Terimakasih untuk waktu yang kita habiskan beberapa saat lalu.

Aku tau.
Aku tau kita tidak terburu-buru.
Aku tau kita masih punya banyak waktu.

Rabu, 12 Oktober 2011

blowing dream

Posted by Melinda Pradita at 03.10 0 comments

Kalau dunia kita berbeda, kita akan jadi seperti apa?

Aku tidak mau menjadi burung yang kehilangan kicau atau harimau yang kehilangan aumannya.

Kalau kita tidak lagi berpijak di tanah yang sama, bagaimana hidup kita?

Apa mungkin seperti puzzle yang tak lengkap? Atau… bisa juga rubik yang belum terselesaikan.

Kalau tidak selalu seperti ini, bisa bertahankah kita?

Bisa jadi seperti pesakitan yang kehilangan obatnya atau tuna netra yang meninggalkan tongkatnya.

Kalau sudah begini, kita bisa apa?

Tersenyum pada awalnya, kemudian tertawa, hingga akhirnya menangis karena terluka.

Tapi, bisa juga kita akan kembali tertawa.

Kalau salah satu di antara kita bahagia, bagaimana yang lainnya?

Apa boleh menunjukkan rasa tidak suka atau harus tetap memasang topeng ikut gembira?

Kalau ini memang cinta yang sebenarnya, aku harus bagaimana?

Berjuang. Berlari. Tersenyum. Menutup telinga. Mendoakanmu baik-baik saja.

Kalau tak cukup, aku akan bahagia untukmu. Aku akan belajar tentang itu. :)

Lalu, kalau ini memang cinta yang sebenarnya, kamu akan melakukan apa saja?

Kamis, 22 September 2011

Selamat tinggal, Awan!

Posted by Melinda Pradita at 10.46 0 comments
Setelah sekian lama berkutat dengan otak, kaki, tangan, dan mulut, aku ingin berhenti sesaat. Barangkali satu atau dua jam. Atau mungkin lebih, aku juga tak bisa memastikan. Bukan karena aku memanfaatkan keadaan, hanya saja rasa penat ini mulai membosankan. Aku rindu bermain khayalan, melamun, dan menggambarkan keindahan di angan-angan.

Hey, jangan bilang aku ini malas. Mungkin terkadang iya, tapi tidak selalu. Kali ini aku hanya sedang rindu pada longgarnya waktu. Dulu aku punya, namun sekarang mulai tersita karena otak, kaki, tangan, dan mulutku selalu bergerak untuk memenuhi tuntutan akan sesuatu. Jadi, mau tidak mau aku harus melambaikan tangan dan mengucap salam perpisahan dengan segumpal awan tempatku biasa menaruh khayalan.

Tapi, siapa pula yang bisa memastikan aku tidak akan pernah bosan? Aku sendiri saja masih tidak yakin dengan keberanianku kali ini. Kadang terpikir untuk kembali ke tempat senyaman awan dimana waktu seakan longgar dan berhenti berputar, serta jutaan angan-angan mampu menyeruak dengan liar. Nyaman.

Lalu kemudian terbersit sedikit rasa risih dengan semua itu. Tampaknya sudah cukup untuk bermanja-manja dengan waktu dan awan, kemudian mulai menata hidup dan melihat kenyataan. Lagu-lagu sendu sudah saatnya diganti dengan musik jazz yang rumit dan tidak tertebak. Sepatu balet pun sudah kusimpan di kotak biru dalam lemari, kugantikan dengan sepatu keds bertali yang kini siap menemani.

Aku ingin selalu merindumu, awan. Aku pergi. Untuk merindukanmu :)


_Aku, putri kecilmu yang akan terus bermimpi. Tapi mulai detik ini, aku adalah ratu yang sedang berlari dalam mimpi.

Jumat, 09 September 2011

plainy lovely

Posted by Melinda Pradita at 01.03 3 comments
Peluh membasahi kening, lengan, dan seluruh tubuhmu. Aku tahu. Aku selalu tahu semua tentangmu, bahkan jika sesuatu itu tidak kau katakan ataupun tidak kau perlihatkan. Walaupun bulir-bulir keringat yang jatuh di tubuhmu tertutup oleh kaus lengan pendekmu yang mulai membasah dan menempel pada kulitmu, aku tetap tahu. Bukan. Bukan karena kausmu yang mulai membasah. Aku hanya tahu. Karena aku mencintaimu. Sesederhana itu.

Kau menyeruput gelasmu hingga isinya tak bersisa lagi. Kau haus. Kau tidak pernah memakai sedotan yang diberikan pelayan padamu dalam gelasmu. Kau tidak pernah mau. Kau bilang menggunakannya tidak akan melegakan hausmu. Kau lebih suka meminum isinya langsung dengan menyeruputnya tanpa benda itu. Iya, aku tau. Kau mengatakan itu sekali di masa lalu, dan aku terus mengingatnya sepanjang hidupku. Aku ingin terus mengingatnya. Karena aku mencintaimu. Sesederhana itu.

Dan aku selalu tersenyum membaca tulisanmu. Bukan. Bukan karena tulisanmu yang tak terbaca olehku. Aku hanya mengingat cara menulismu yang berbeda sehingga tulisanmu terlihat lucu di mataku. Kau seperti menarik pena agar tulisanmu tergores, bukan mendorongnya seperti yang anak-anak lakukan. Kau tahu caramu aneh, tapi kau tidak peduli. Dan aku selalu tersenyum membaca tulisanmu. Aku membayangkan bagaimana tulisan ini kaugoreskan dengan cara anehmu. Aku bahkan tak ingin mengenyahkan bayanganmu jika sudah seperti itu. Karena aku mencintaimu. Sesederhana itu.

Kau tak pandai bernyanyi, tapi kau tak pernah bisa menghilangkan hasrat bernyanyimu ketika penyanyi idolamu muncul di televisi. Kau akan bernyanyi dengan nyaring dan menghayati sehingga semua orang tertawa geli. Sekali lagi, kau tak akan pernah peduli. Dan setiap kali aku bertanya mengapa kau bisa sekonyol itu, kau hanya menjawabnya dengan santai. Kau hanya menyukai penyanyi idolamu itu. Hanya itu. Dan kau tidak mau ambil pusing dengan mereka yang mengolok-olokmu. Kau tak pernah tau aku selalu tersenyum mendengarnya. Andai saja kau tahu, aku juga sepertimu. Aku hanya menyukaimu. Dan aku mencintaimu. Sesederhana itu jawabanku.

Aku selalu menyukaimu. Walaupun kau terlihat bodoh atau lucu. Walaupun kadang tanpa sadar kau menyakitiku. Walaupun aku tak lagi bisa selalu di sisimu seperti dulu. Aku selalu menyukaimu. Walaupun kau tidak pernah lagi mengumbar janji. Walaupun aku kehilangan sebagian dirimu yang mulai menjadi dewasa. Walaupun kadang kau bersikap tidak peduli. Aku selalu menyukaimu. Karena tiap kita bertemu kau selalu memberikan senyum terbaikmu. Karena sorot matamu menyiratkan kau merindukanku. Dan karena selama aku berada di sisimu, kau mampu meyakinkanku kau masih mencintaiku.

Aku hanya mencintaimu. Itu saja. Sederhana.

Selasa, 23 Agustus 2011

kembali

Posted by Melinda Pradita at 10.14 0 comments
Ada sedikit ragu ketika melihatmu. Antara takut, bingung, dan enggan yang bergumul menjadi satu.
Ada sedikit ragu ketika menyapamu. Menepis semua sapaan berbeda yang pernah kita gunakan dulu.
Ada sedikit ragu ketika menyentuh jabat tanganmu. Mengingat kembali sentuhan-sentuhan lugu yang hidup di masa lalu.
Sungguh, aku tak ingin seperti itu.
Aku ingin seperti ini.
Hanya seperti ini saja.
Tanpa ragu ataupun mengingat semua yang telah menjadi kenangan palsu.
Sayang, boleh aku berteriak?
Hanya kali ini saja.
Boleh, kan, sayangku?
Aku ingin kembali.
Aku ingin kembali.
Aku ingin kembali.
Aku ingin di sini. Denganmu. Sampai nanti.
Aku hanya ingin tetap seperti ini.
Kau dengar, sayang?
Aku di sini.
Aku tidak akan kemana-mana lagi.

Kamis, 18 Agustus 2011

mozaik

Posted by Melinda Pradita at 08.44 9 comments
Aku meraba dadaku, mencoba menemukan hatiku. Aku mencarinya hingga ke tiap sudut yang mungkin belum bernama, namun aku tak juga menemukannya. Aku hampir menyerah. Aku hampir membiarkan hatiku tidak terjamah, bahkan oleh tanganku sendiri. Sampai kemudian aku merasakannya. Sungguh, aku merasakan denyutnya! Perlahan-lahan aku menariknya keluar dari tubuhku, kemudian memperhatikannya.
Ah, rupanya seperti ini bentuk hatiku. Hanya berupa lembaran kertas berwarna abu-abu yang terus berdenyut merdu. Dan kupicingkan untuk melihat lebih jelas lagi apa yang tertulis di hatiku.
Aku melihatnya! Aku memekik gembira! Aku melihat namamu di hatiku yang abu-abu. Aku tersenyum. Aku bahagia. Ternyata benar. Ternyata ada namamu yang tertulis di sana. Ternyata usahaku mencari hati tidak sia-sia.
Lalu aku membawa hatiku kepadamu. Aku ingin menunjukkan bahwa namamu terukir di situ. Aku begitu ingin melihatmu menerima hatiku. Maka aku mengetuk pintu rumahmu, merapikan kembali lembaran hatiku yang telah kubungkus dengan kain berwarna biru. Untukmu. Ya, hati ini untukmu.
Kau datang. Aku menggenapkan semua keberanian untuk menyerahkan hadiah hatiku. Aku memberikannya padamu sambil menunduk malu. Aku menunggu, menunggu kau mengatakan sesuatu tentang hatiku.
Kau hanya diam. Sebentar. Kemudian, kau melakukannya. Kau melakukannya di depanku tanpa mengindahkan tatapan nanarku. Kau melakukannya tanpa mendengarkan terlebih dahulu denyut merdu hatiku. Kau melakukannya tanpa melihat ada namamu yang terukir di hatiku. Kau menyobeknya. Kau menyobek hatiku menjadi serpihan kecil tak beraturan yang awalnya melayang di udara, kemudian berjatuhan tak beraturan di sekitar kakiku yang mulai goyah melihat semuanya.
Lalu, kau pergi.
Aku menahan air mata. Aku menunduk dan melihat serpihan hatiku yang telah kau campakkan begitu saja. Aku memungutnya. Satu demi satu. Helai demi helai. Aku tahu aku butuh waktu lama. Tapi aku tidak mau hatiku terbuang sia-sia! Aku ingin hatiku kembali. Aku ingin bisa merasakan denyut merdunya dan menuliskan sesuatu di lembarannya lagi!
Kukumpulkan semua serpihan hatiku, kubawa pulang. Aku berlari mencari lem terbaik untuk merekatkannya kembali. Merekatkan potongan-potongan tak beraturan rumit yang membuatku mengernyitkan dahi. Aku ingin marah padamu! Sungguh, aku ingin melampiaskan kemarahanku dengan memakimu. Sayangnya aku tak bisa. Serpihan hatiku terlalu lemah dan ringkih untuk memakimu, bahkan untuk sekedar menuliskan namamu kembali.
Aku menangis sambil menyatukan kembali semua serpihan kecil hatiku menjadi lembaran kertas abu-abu yang dulu. Lama, hingga akhirnya aku sadar tidak ada lagi serpihan kecil yang tersisa.
Aku mengamati lembaran hatiku yang baru. Berbeda… Kenapa? Bahkan ketika aku sudah mencoba merekatkan dan mengobatinya, kenapa tidak juga bisa seperti semula? Aku terduduk lemas memandangi hatiku, berharap lama-kelamaan lembarannya bisa menjadi utuh seperti dulu.
Lalu, aku melihatnya. Ya. Namamu masih tertulis di sana. Aku mengambil penghapus untuk menghilangkannya. Aku menghapusnya. Dan benar saja, ketika penghapus itu kugesekkan ke lembaran hatiku, serpihannya kembali berhamburan.
Aku menghela napas, kemudian mengulang lagi usahaku untuk menyatukannya kembali.

Bahkan saat hatiku sudah terlalu terluka seperti inipun, aku masih belum mampu menghapuskan namamu…

Jumat, 12 Agustus 2011

Sedikit Rindu Untukmu

Posted by Melinda Pradita at 21.23 0 comments
Ada sedikit rindu untumu. Rindu yang belum terkikis oleh waktu ataupun kisah-kisah baru yang menghampiriku. Sesekali aku menyapa bayangmu. Semu. Dan tentu saja, tidak akan pernah kau jawab. Iya, aku tahu. Bukannya kau tak mau, hanya saja kau memang tak tahu. Kau tidak pernah kuizinkan untuk tahu.
Aku tidak sedang menatapmu, hanya melirikmu dari kerlingan kecil mataku. Hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Hanya ingin melihat senyum lucumu yang sempat membuatku terpesona. Hanya ingin meyakinkan diriku kau bahagia.
Sedikit, rasa rindu ini memang kusisakan untukmu. Supaya lembaran cerita kita masih tersimpan rapi di benakku. Kelak akan kuceritakan kembali padamu agar kau tertawa. Agar kau mengingat kembali apa yang pernah kita punya.
Jangan pernah katakan padaku tentang perasaan itu. Perasaan yang mampu membuat kita menjadi semakin dekat atau justru menjauh karena ragu. Sedikit rindu ini kusisakan untukmu bukan untuk menciptakan hal buruk semacam itu.

Sedikit rindu ini akan selalu kusisakan untukmu.
Agar kau tetap di situ. Kau dan aku tetap berada di jarak yang kita janjikan di masa lalu.

Kamis, 21 Juli 2011

Gadis Kecil di Sudut Pagar Sekolah

Posted by Melinda Pradita at 18.58 0 comments
Gadis kecil itu memandang resah jam dinding di belakang kelasnya. Lima menit lagi, ujarnya dalam hati. Ia mengetuk-ngetukkan sepatunya, memberi tanda bahwa ia sudah ingin melesat keluar dari kelas ini. Tak dihiraukannya Ibu Guru yang masih mengajarkan cara melipat kertas origami untuk membuat setangkai bunga mawar. Gadis kecil itu sesekali berdiri dan melongok ke luar jendela, kemudian duduk lagi dengan tidak nyaman. Ibu Guru memandang gadis kecil itu lewat sudut matanya, namun dibiarkannya saja. Memang sebentar lagi saat yang dia tunggu akan tiba, batin Ibu Guru.

Bel tanda istirahat pun berbunyi. Gadis kecil itu tersenyum lebar, kemudian segera berlari keluar kelas. Ada yang ingin ia temui. Seseorang di sudut pagar sekolah yang selalu menunggunya pada jam istirahat semacam ini. Seseorang yang tidak boleh diketahui siapapun, kecuali dirinya sendiri. Gadis kecil itu terus berlari sambil mendekap sebuah kantung kecil di dadanya. Kucir rambutnya bergoyang kesana kemari, mengikuti derap langkahnya yang belum juga akan berhenti.

Seseorang di sudut pagar sekolah sudah menunggu dengan senyum lucunya. Seekor kucing berbulu putih kecokelatan mengekor dibelakangnya. Dipandanginya kucing itu sesaat, kemudian digendongnya. Kucing itu mengeong pelan dan manja, ikut merasakan kebahagiaan tuannya yang akan bertemu gadis kecilnya.

Gadis kecil sudah sampai di sudut pagar sekolah. Napasnya terengah-engah. Namun, senyumnya tetap merekah begitu melihat sosok yang dituju sedang tersenyum ramah. Gadis kecil itu mendekat.

“Hari ini aku bawakan Kucing Bersepatu. Kau belum pernah membacanya, kan?” tanya gadis kecil itu sembari mengeluarkan buku yang disimpan di kantung kecil yang sedari tadi didekapnya. Sosok yang ditanya menggeleng.

Gadis kecil itu tesenyum puas. “Sudah kuduga. Ini bukunya,” ujarnya tersenyum bangga sambil menyelipkan buku itu di sela-sela pagar sekolah. “Hai, Lucifer…” sapanya lucu ketika melihat kucing manja yang digendong oleh sosok itu. Lucifer mengeong, membalas sapaan gadis kecil itu.

Sosok itu menerima buku Kucing Bersepatu yang diulurkan gadis itu. Dia tersenyum puas. Kemudian, seperti teringat sesuatu, ia cepat-cepat merogoh tas kumalnya dan mengeluarkan sebuah buku lain.

“Yang ini aku sudah selesai membacanya… Ceritanya bagus. Terimakasih ya, Anna.” Ucap sosok itu tulus. Anna hanya mengangguk, kemudian menerima buku yang disodorkan kepadanya.

“Kau belajar apa saja hari ini?” Tanya sosok itu lagi.

“Banyak.” Ujar Anna sambil sesekali memperhatikan sekeliling, memastikan tidak ada yang melihat mereka berdua. Bertiga, jika Lucifer juga dihitung. “Aku belajar menulis huruf sambung, menghitung angka enam sampai sepuluh, kemudian membuat bunga mawar dari kertas origami.”

“Benarkah? Menyenangkan sekali…” sosok itu terlihat antusias.
Anna tersenyum simpul. “Iya, seharusnya menyenangkan. Kalau saja kau ada di kelas itu bersamaku, Tony…” ucapan Anna terputus. “Mungkin akan lebih menyenangkan,”

Tony tersenyum. “Tidak bisa, Anna. Aku harus membantu pamanku menjaga toko. Dia tidak akan mengizinkanku untuk bisa sepertimu… emm, belajar dan… bersekolah….”

Anna mengangguk pelan. Tatapan matanya sedih. “Maaf, Tony… Semenjak aku bersekolah, aku kehilangan banyak waktu bermain denganmu…” ujarnya pelan. Tony hanya tersenyum.

Tak lama, bel tanda istirahat telah berakhir berbunyi. Anna menatap Tony sesaat, kemudian berkata “Aku harus kembali ke kelas.”

Tony mengangguk. “Terimakasih untuk ini,” ujarnya sambil mengacungkan buku yang Anna berikan tadi.

Anna mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum, kemudian perlahan melihat kepergian Tony dari sudut pagar sekolah. Anna mendengus.Dia harus kembali ke kelas. Waktu istirahatnya sudah selesai.

Mel, 22 Juli 2011 08:00

Selasa, 12 Juli 2011

Bouleverser

Posted by Melinda Pradita at 01.02 0 comments
Hujan masih turun. Dan aku terjebak di dalam café kecil ini. Aku ingin pulang, tapi tak bisa. Tubuhku terlalu ringkih untuk menembus derasnya hujan kali ini. Jadi aku hanya duduk, memandangi hujan yang turun saling berkejaran, sambil sesekali menyesap sisa-sisa kopi di cangkirku. Mungkin aku harus memesan secangkir lagi, pikirku. Lagipula, hujan sore ini membawa hawa dingin yang mampu mengerutkan kulit dan lambungku. Aku berpikir dan menimbang lagi. Benar, secangkir black coffee dan sepiring kecil pancake tampaknya menjadi pilihan yang tepat untuk menemaniku menunggu hujan reda.
Aku memanggil pelayan yang berada tak jauh dari mejaku, mengatakan pesananku, dan membiarkannya mencatat kemudian memastikan kembali. Aku mengangguk, kemudian kembali memperhatikan rinai hujan yang turun dari jendela kecil di sampingku. Aneh, pikirku. Hanya dengan melihatnya saja aku seolah mampu merasakan butiran-butiran dinginnya yang jatuh di tanganku dan meresap ke pori-pori kulitku. Tak puas, aku menyentuh permukaan kaca jendela di sampingku. Dingin, tentu saja. Dan seakan ada magnet yang menarik tanganku untuk tetap menyentuh kaca jendela itu, dingin permukaannya yang perlahan menyusupi kulitku tak kuhiraukan lagi. Aku menuliskan sesuatu di kaca itu. Namamu. Benar, namamu.
Pesananku datang. Pelayan itu mengagetkanku yang masih terbuai menuliskan namamu di kaca jendela café ini. Aku terkejut, kemudian cepat-cepat menghapuskan namamu dari jendela itu. Pelayan itu tersenyum lucu. Aku mendengus. Bodohnya aku. Tentu saja dia tak akan pernah bisa melihat namamu, jadi kenapa harus repot-repot kuhapus? Aku tergelak pelan menyadari kekonyolanku, diikuti seringai lebar si pelayan. Pelayan itu pun membungkuk sopan, kemudian berlalu.
Aku menghela napas getir, memandangi kaca jendela di sampingku tempat aku menuliskan namamu. Sudah terhapus. Sudah tidak berbekas lagi. Ah ya, hujan telah membantu menghilangkannya. Hanya dalam hitungan detik namamu telah terhapus dari sana. Aku menunduk lemas. Kenapa hatiku tidak terbuat dari kaca saja? Dan kenapa aku tidak menuliskan namamu di hatiku dengan jari-jariku saja? Dengan begitu, saat kau pergi nanti, aku akan lebih mudah menghapusnya. Benar, kan?
Aku memasukkan potongan kecil pancake ke mulutku kemudian menghirup kopiku. Manis, lalu pahit. Sepertimu. Seperti kenangan yang sudah kau kirimkan di hatiku. Terlanjur, pikirku. Kulanjutkan saja semua manis pahit bersamamu. Tak apa, asal bersamamu.
Lonceng di pintu café berbunyi, sesosok tubuh tegap berlari kecil dengan baju penuh bercak hujan memasuki café. Aku terkesiap memandangi sosok itu. Sosok itu mengedarkan pandangannya mengelilingi café, kemudian tatapannya berhenti saat melihatku. Sosok itu menghampiriku dengan senyum lucunya, lalu duduk di hadapanku. Pelayan pun menghampirinya dan sosok itu menyebutkan pesanannya.
“Surprised to meet you here, girl,” ujarnya sambil mengerling jenaka. Aku tertawa. Lagi-lagi laki-laki ini menyelamatkanku. Aku memperhatikannya seksama, membiarkannya menyesap kopiku hingga akhirnya pelayan datang lagi membawakan pesanannya. Dia meletakkan cangkir kopiku, kemudian menghirup cangkir kopinya. Latte.
Kemudian, laki-laki ini memandangiku dengan tatapan tajam. “You should change your coffee with mine. Mine would be sweetening you, better than this black one,” dia berkata tegas sambil menatap mataku dalam.
Aku terhenyak sesaat. Kemudian tersenyum. Dan aku membiarkannya menukar kopiku dengan kopinya. Mungkin benar. Kali ini, biar saja…

Rendezvous’

Posted by Melinda Pradita at 00.54 0 comments
Aku terpaku melihat diriku yang baru. Cermin ini memantulkan sesosok gadis yang bukan aku. Aku mengernyit, mencoba melihat sosok itu lebih dekat lagi. Kupandangi seluruh bagian diriku yang terpantul dalam diri gadis itu. Benar, ini wajahku. Ini tubuhku. Dan ini ekspresi tak percayaku. Lalu, kenapa sosok ini terasa bukan seperti aku?
Aku melirik jam di sudut kamarku. Enam tiga puluh. Aku menghela napas berat, kemudian memandang kosong ke layar ponselku. Satu pesan darimu. Tentang kamu yang akan datang menemaniku malam ini. Tentang sisa waktuku yang tinggal sepuluh menit untuk mempersiapkan diri bertemu denganmu. Aku bergeming. Kenapa harus kamu? Batinku.
Cantik. Cermin itu seolah baru saja bicara padaku. Aku tersenyum miris, menolak untuk mendengar apapun tentang diriku malam ini. Aku beranjak, memagut kembali diriku di cermin. Aku menyisir rambutku lagi, memutuskan untuk menggerainya. Aku merapikan bajuku, kemudian memilih sepatu dan tas tangan terbaikku. Aku ingin malam ini sempurna denganmu. Memang kamu bukan dia, tapi biar saja. Aku tersenyum puas hingga dering ponselku berbunyi lagi. Ah, kamu. Kamu sudah sampai dan menungguku rupanya.
Aku menemuimu. Aku melihatmu dalam setelan celana jeans dan kemeja yang kau gulung sampai siku. Menarik, pikirku. Kamu tersenyum melihatku, dan aku pun tersipu. Kamu selalu bisa membuatku melupakannya dan menarikku ke duniamu. Ya, aku menyukaimu.:)
Aku dan kamu. Kali ini menghabiskan malam dalam tatapan penuh makna. Dalam ribuan kata yang saling bertautan dan berkejaran. Aku melihatmu tertawa dan berlari, aku mendengarmu bercerita dan bernyanyi. Perlahan aku menyukainya. Aku ingin berada di dekatmu lebih lama. Bukan hanya malam ini, aku menginginkan malam-malam setelahnya. Bersamamu, aku mulai bisa melupakannya.
Aku tersenyum kemudian tertawa menatapmu. Kamu terdiam, memandangku canggung seolah ada hal sulit yang ingin kau katakan. Kamu bergumam lirih, berkata dengan pelan tentang malam ini yang akan berubah menjadi pagi. Kamu menundukkan wajamu, menatapku dalam, kemudian meraih tanganku untuk kau genggam dan kau ajak pulang. Aku terkesima sesaat, lalu tersenyum. Aku mau.
Kamu memberikanku senyuman terbaikmu lagi untuk mengakhiri malam ini. Aku diam, tidak ingin membalas senyummu. Aku takut senyum ini menjadi senyummu yang terakhir untukku. Aku terus berdiam hingga akhirnya kamu meninggalkan sebuah kecupan kecil di pipiku dan berlalu. Aku membalikkan tubuhku, tak ingin melihat punggungmu yang semakin menjauh. Aku bergidik. Benarkah aku jatuh telah cinta padamu?

Minggu, 26 Juni 2011

Warm Qualm

Posted by Melinda Pradita at 21.48 0 comments
Menunggu itu membosankan buatku. Menunggu itu seperti menghitung kotak ubin dalam ruangan kamarku. Tak banyak sebenarnya, namun mampu membuatku merasa jengah dan berpikir dua kali untuk memulainya. Dan menunggumu itu seperti menghitung kotak ubin ballroom besar yang bahkan aku tak bisa menebak berapa luasnya. Aku enggan memulainya, tapi entah bagaimana nantinya tetap kulakukan juga.
Yang kurasakan padamu tak jauh berbeda sebenarnya. Sedikit bertanya-tanya tentang sikapmu, sedikit merasa aneh dengan perasaanku yang semakin tak menentu. Tapi toh aku tak beranjak pergi ketika aku bosan menunggumu. Lelah memang, namun rasanya ada sekelebat perasaan hangat yang menyelimutiku.
Jangan tanyakan tentang perasaan bimbangku terhadapmu. Jangan juga tanyakan ketidakmampuanku untuk menentukan sikap padamu. Benar aku bingung dan bimbang. Dan benar aku merasa sedikit dipermainkan.
Namun lucunya, aku tidak menolak perasaan ini yang sungguh tak beraturan.

Aku merasa hangat dan nyaman.

Sabtu, 25 Juni 2011

Malam ini. Kamu lagi.

Posted by Melinda Pradita at 11.01 0 comments
Lagi-lagi aku memikirkanmu di potongan kecil malam ini. Kusandarkan kepalaku di dinding kokoh bumi, lalu memandang langit yang seakan tak pernah memiliki tepi. Kamu lagi. Pasti. Meracuni malamku dengan semburat rindu dan ungkapan palsu. Melayani khayalku dengan segelintir harapan berbalut nada-nada pilu.
Aku mengusap kedua telapak tanganku yang mulai menggigil dan membiru. Bukan karena dinginnya malam yang semakin tak menentu. Aku merapatkan jaketku, bukan karena aku mengelak dari rasa ngilu yang merasuk tulangku. Dan aku melepaskan ikat rambutku, membiarkan rambutku jatuh perlahan satu demi satu, bukan pula untuk menutupi tengkukku yang berkali-kali dihujam udara bernapaskan salju. Lalu, untuk apa semua itu? Benar, aku sedang menarik perhatianmu malam ini padaku.
Lalu kamu. Berjalan pelan menghampiriku sambil tersenyum lugu. Membuat darahku berdesir lembut hingga tubuhku membatu. Kamu dengan pesonamu, dan aku yang tak mampu beranjak dari belenggu atmosfermu. Dan ketika tangan kita bertemu, aku tau. Aku tau ini adalah pertanda baru.
Aku kembali merapatkan jaket kulitku, menutup kesempatanmu untuk mengetuk pintu hatiku saat itu. Kamu tergelak pelan, kemudian berlalu sambil sesekali menoleh padaku. Aku tertawa memandangi punggungmu yang semakin menjauh dari hadapanku. Aku menghela napas getir, membayangkanmu. Iya. Malam ini. Kamu lagi.

Jumat, 24 Juni 2011

Insomnia

Posted by Melinda Pradita at 11.07 2 comments
Aku belum mengantuk. Malam ini masih panjang, kau pun belum pulang. Aku belum ingin tidur, aku sedang menunggumu kembali dari sederetan lelah harimu dan sekumpulan gadis-gadis barumu.
Mungkin saja kau membutuhkan tempat untuk meletakkan penatmu?
Mungkin saja kau menginginkan suasana baru yang sempurna menutup harimu?
Atau mungkin saja kau mencari sebuah kantong yang mampu menjadi tempatmu memuntahkan rasa sendu dan pilumu?
Saat itu kau boleh melihatku.
Kau boleh meminta seluruh waktuku untuk memperhatikanmu. Kau boleh memintaku untuk terus mencintamu. Kau pun boleh memintaku untuk menunggumu kembali dari sekumpulan gadis-gadismu.
Malam ini belum larut, dan kabar darimu tak juga datang. Aku menunggu, karena tak tau lagi apa yang bisa kulakukan. Aku memilin-milin rambutku, berharap mampu membunuh waktu. Aku melambungkan ingatanku padamu, merangkai cerita lucu tentang kita yang baru.
Kau pulang atau tidak? tanyaku dalam hati.
Dan aku masih menunggumu meski aku hapal kebiasaanmu yang tak akan kembali hingga esok hari. Benar, hanya sedikit waktu untukku karena duniamu telah begitu rancu bagiku. Ah, kau memang seperti itu.
Aku beringsut dari dudukku, membuka pintu bagi rasa kantuk untuk menghapiriku. Kau tak pulang,aku tau. Mungkin kau sedang bersama gadismu yang baru, yang kelak akan kau cintai sepenuh hatimu.
Aku tersenyum simpul membayangkan hal itu. Aku pun berjalan masuk dan menutup pintu kamarku. Kau tak pulang, aku tau. Aku pun melangkah perlahan ke arah tempat tidurku, berbaring untuk menutup penantianku hari ini padamu. Aku berbaring dan tak urung melihatnya mendengkur halus di sampingku.
Dia sudah tidur rupanya, batinku.
Aku kembali tersenyum kaku. Kukecup dia perlahan, membiarkannya menarikku ke dekap erat tubuhnya yang mampu menentramkanku. Kusesakkan kepalaku ke dadanya, mencoba menghirup aroma tubuhnya lebih dalam lagi. Hingga akhirnya, aku kembali menoleh ke pintu.
Pintu kamarku tetap tertutup. Kau tak pulang, kau sedang bersama gadis barumu.
Aku tersenyum membayangkanmu. Kantukku perlahan datang dan aku mengakhiri penantianku malam ini padamu. Aku membalikkan tubuhku dari pintu dan menatap senyum tulusnya padaku.
Aku membalasnya, kemudian memejamkan mata.
Kau, batinku. Sampai bertemu esok hari… :)

Sabtu, 18 Juni 2011

dan aku mengaku

Posted by Melinda Pradita at 18.49 0 comments
Sayangku, apa kabarmu? Masihkah kau sama seperti yang kukenal dulu? Masihkah kau menjadi sosok yang tak lelah bersaing dengan waktu untuk menuntunku?
Ataukah sisi dirimu telah berganti menjadi yang baru? Yang tak kukenal dan kelak akan membuat hatiku membiru?
Kau berlalu, begitupun aku. Kau tertawa, aku tersenyum palsu. Kau melangkah, aku mengekormu dalam gerutu. Kau menangis, aku merintih sendu. Sudahlah, sayangku. Kau tak perlu berhenti melangkah dan menengok ke arahku untuk memastikan keadaanku. Kakiku masih cukup kuat untuk berjalan walau tanpa genggam eratmu. Mataku masih sanggup melihat jalan yang mulus tidak berbatu. Tanganku pun masih cukup cekatan untuk meraih ranting atau apapun yang mampu kujadikan pegangan jika aku terpeleset dan jatuh. Kau tau itu bukan, sayangku?
Sayangku, kau tau aku mencintamu layaknya matahari dan waktu. Aku tak lelah mencintamu meski kau terus berjalan dan berlalu, sedangkan aku tetap diam memperhatikan tiap sudut gerakmu. Jangan tertawa, sayangku. Aku tau kau tak pandai bicara dan bermain kata tentang cinta, sehingga aku-lah yang akan memainkannya untukmu. Kau tak boleh meragukan rayuan dan kata-kata gombalku padamu :)
Sayangku, apa kabarmu? Kabarku buruk, teramat buruk. Aku mencintamu terlalu dalam dan tak tau bagaimana cara menghentikannya. Aku ingin marah tapi tak bisa. Aku ingin bicara namun kata-kataku lepas tak tertata. Tubuhku merapuh, seolah terhipnotis oleh pesonamu yang mampu membuatku menggelayut manja. Aku menjadi bodoh, pelupa, dan lumpuh. Keadaan yang mengenaskan bukan, sayangku?
Aku sedih, sayangku. Apa yang harus aku lakukan? Jika matahari harus selalu melihat sang waktu, tak begitu dengan aku. Aku ingin menjauh dan mengatur jarak padamu agar rasaku terbendung dan tertutup dari penglihatanmu. Aku malu, sayangku. Aku malu pada diriku, padamu, dan pada sang waktu.
Sayangku, apa kabarmu? Kau masih di situ, bukan? Hatiku mencelos dalam rindu untukmu, andai saja kau tau. Tapi aku tak ingin kau tau, aku ingin menyimpannya dalam ruang hatiku yang terdalam, yang bahkan tak akan bisa kukais lagi suatu hari. Sayangku, menengoklah padaku sesekali, perlihatkan senyummu yang dulu. Kau tau, kau selalu tau aku ada di belakangmu dan tak akan mengelak dari sambut tanganmu.

Sabtu, 14 Mei 2011

14 Mei

Posted by Melinda Pradita at 03.02 0 comments
Aku berdamai dengan rindu, untukmu. Aku mengenyahkan jutaan ragu dan takut yang membelenggu. Hari ini, hanya hari ini, aku ingin kau tahu bahwa aku membiarkan hatiku meluruh sepenuhnya padamu. Hari ini, karena aku merindu hadirmu dalam benakku.
Sebentar saja, aku ingin kau tahu aku masih menginginkamu. Melupakan kesakitan dan kesedihan yang kau toreh di masa lalu. Hanya aku dan kamu. Kuabaikan hitam, putih, ataupun abu-abu dirimu.
Hanya hari ini, aku ingin bersamamu. Tak kuhiraukan hari esok ataupun hari yang telah lalu. Aku merindumu dalam sekelumit waktu. Hari ini semua raguku berlalu, berganti dengan khayal yang semakin menggebu.
Hari ini akan berganti menjadi hari yang baru, aku tahu. Dan aku tidak akan menahan waktu. Aku dan kamu akan kembali menjadi seperti dulu, meragu dan sulit menjadi satu. Hari ini akan berlalu, begitupun kenangan tentangmu.
Aku mengingatmu dalam sendu, membiarkanmu berlalu layaknya waktu. Namun, hari ini aku menahanmu. Sedetik, dua detik, hingga matahari kembali muncul mengganti hari yang telah lalu. Aku dan kamu. Saat ini,hari ini tanpa belenggu. Menunggu hari esok, merindu.

Rabu, 04 Mei 2011

Aku merindukanmu

Posted by Melinda Pradita at 01.33 0 comments
Benar. Aku merindukanmu

Aku merindukan celotehmu yang mampu membuatku melupakan waktu.
Aku merindukan senyummu yang mampu membuatku tersipu.
Aku merindukan tawamu yang mampu membuatku tertunduk malu.
Aku merindukan tatapanmu yang membuat lidahku kelu.
Dan aku merindukan suaramu yang mampu membuat tubuhku terpaku.
Aku tidak akan merindumu hanya karena kau lelaki pertama yang mampu mencuri hatiku.
Aku tidak akan merindumu hanya karena kau tidak berada di sisiku.
Aku tidak akan merindumu hanya karena ingatan tentangmu begitu membelengguku.
Aku tidak akan merindumu hanya karena hidupku terasa sempurna saat tubuh kita bertemu.
Aku pun tidak akan merindumu hanya karena kau dan aku pernah bersama di masa lalu.

Kau tahu, aku hanya merindukanmu.
Aku merindukanmu karena kau berubah menjadi sosokmu yang baru, bukan kau yang kukenal dulu.
Dan kau tahu aku tidak ingin selamanya merindumu.

If someday you change, I don't wanna know you. Because I don't wanna remember another you.

Kamis, 28 April 2011

tentangku, bukan tentangmu.

Posted by Melinda Pradita at 21.12 3 comments
Seharusnya ini bukan tentangmu, ini tentangku. Tentang bagaimana aku melupakan dan tidak mengharapmu.

Seharusnya kini aku sudah berhenti memperhatikanmu. Berhenti mencari tahu tentangmu yang justru akan menyakitiku.

Seharusnya aku tidak membiarkan diriku terlarut memikirkanmu. Berpikir tentang kelakuan-kelakuanmu yang membuatku merasa pilu.

Seharusnya aku tidak lagi mengindahkanmu. Tidak lagi mengijinkanmu memperlakukanku sesuka hatimu.

Seharusnya aku melangkah lebih jauh darimu. Melihatmu dari jauh apakah kamu peduli dan mencariku.

Seharusnya aku tidak boleh menangisimu. Aku bahkan tidak boleh membiarkan diriku merasa sedih karenamu.

Seharusnya aku membuang jauh kenangan tentangmu. Aku hanya boleh mengenangmu ketika suatu hari nanti aku telah bisa melupakanmu.


Kamu tahu, semua ini salahku.
Dan kamu juga harus tahu, seharusnya aku mampu merubah semuanya saat ini, sebelum semuanya menjadi semakin sulit buatku untuk berlalu darimu.

Senin, 25 April 2011

Dialog Itu

Posted by Melinda Pradita at 07.36 7 comments
Aku: “Menurutmu, apa kata yang paling tepat untuk mendeskripsikanku?”

Kamu: (berpikir sejenak, lalu menjawab) “Tulang rusuk.”

Aku: “Kok tulang rusuk?”

Kamu: “Karena kalau ngasih tahu kamu itu harus hati-hati. Kalau terlalu pelan nggak
ngefek, kalau kekencengan malah kamu sakit hati terus ngambek. Sama, kan,
kayak tulang rusuk. Kalau didiemin tetep bengkok, tapi kalau dipaksa ya
patah..”

Aku: (diam, kaget mendengar pernyataanmu)

Kamu: “Eh malah bengong. Sekarang gantian deskripsiin aku!”

Aku: (berpikir) “Apa, ya? Mm, sepatu!”

Kamu: “Kok bisa?”

Aku: (tertawa sambil malu) “Karena walaupun aku sering marah dan bikin susah kamu,
pada dasarnya aku butuh kamu loh, nggak ada kamu aku susah. Sama kayak sepatu,
kan? Walaupun sering aku injek-injek tetep aja aku butuhin,hehe.”

You and me some years ago, as best friend.

Lalu aku baru tahu bahwa ada ungkapan yang mengatakan bahwa wanita itu berasal dari tulang rusuk pria.

Then, are you the men who gave your ribs to me?


Dan kemudian aku juga tahu ada ungkapan yang mengatakan bahwa benda terpenting wanita adalah sepatu. Karena sepatu yang bagus akan menuntunmu ke tempat yang bagus juga.

Then, are you the men who turn into the shoe for guiding me to the best place?


. . . . . . . .

great shoe for great place



*P.S. Ya Tuhan… I don’t know exactly what I’m thinking of that sign, it’s just like… semua percakapan dan ungkapan tentang tulang rusuk dan sepatu itu cocok, dan rasanya terlalu sempurna untuk suatu kebetulan,kan?

Minggu, 17 April 2011

Catatan dalam Diam

Posted by Melinda Pradita at 13.39 0 comments
Jika saja kamu tahu debaran jantung ini mulai berubah tak keruan tiap kali aku menangkap sosokmu,

Dan jika saja kamu tahu mata ini tak mampu mengalihkan perhatiannya darimu tiap kali kita bertemu,

Atau jika saja kamu tahu tubuh ini membatu, tak mampu bergerak tiap kali suaramu terdengar olehku.

Namun sayangnya, kamu tak tahu.

Kamu mampu datang dan berlalu tanpa tahu isi hatiku.

Hal kecil tentangmu bahkan mampu menjadi hal besar buatku.

Kamu, ya kamu.

Tak tahukah kamu telah menguasai sebagian isi hatiku?

Lalu kamu berlalu, tanpa pernah mengindahkan perasaanku.

Aku ingin kamu tahu.

Sungguh, aku ingin kamu tahu.

Tentangku, tentang perasaanku, tentang aku dan kamu.

Aku ingin kamu tahu.

Aku mencintaimu.

Sabtu, 16 April 2011

High School Never Ends

Posted by Melinda Pradita at 23.08 0 comments
Who says we have to let it go
It’s the best part we’ve ever know
The bridge to the future…

*High School Musical 3

Saya cinta masa-masa SMA :)

Cinta sekali…

Saking cintanya, saya sampai ingin mengulang kembali masa-masa indah saat SMA dulu.

Tentang persahabatan

Cinta

Pelajaran

Guru-guru killer

Semuanya.

Saya sering memandang iri anak-anak berseragam SMA yang berseliweran di depan rumah saya tiap pagi.

Dan saya juga selalu menyempatkan memandangi gedung SMA saya tiap kali lewat di depannya.

Rasanya ada separuh hati saya yang masih tertinggal di sana.

Saya benar-benar merindukan atmosfer SMA saya.

Bersenang-senang dan bercanda dengan teman-teman saya,

Memperhatikan dan mencuri pandang diam-diam kea rah dia yang saya suka,

Belajar sambil ngomel karena materi ulangan yang terlalu banyak dan saya nggak
paham,

Memanfaatkan jam ganti pelajaran untuk ke kantin dan ngobrol dengannya,

Berangkat pagi-pagi demi nyontek tugas tapi berangkat mepet pas upacara hari Senin…



Gosh, I miss that moment so bad.

Tapi,

Waktu nggak akan pernah berputar, kan?

Masa SMA saya memang indah,

tapi saya tahu masa setelahnya juga akan lebih indah.

Saya hanya perlu beradaptasi sedikit lagi

And I will get more happiness, of course.

Mungkin ini cara Tuhan untuk bilang pada saya:

“I’ve give you miracle time in the past, now is your turn to make it again. But,
this time is depending your way, not me anymore.”


:)

Mungkin seperti itu,ya…

Then I have to say big thanks to You, God.

You gave me a great time in the past, great experience and surely, great friends.

But now is my chance to walk away.

Into the new world, new beginning, new life.

And I know You’ll bless me again over this part in my life.

Ya. I don’t get any doubt anymore.

Now I’m moving on. With smile. And big passion to create a new life.















New big spirit,

Mel

kamu

Posted by Melinda Pradita at 22.59 0 comments
Kamu,
Apa kamu masih mengingatku?
Masih mengenaliku jika kita bertemu?
Masih akan menyapaku dan memberikan senyum terindahmu?

Kamu,
Apa kamu merindukanku?
Apa namaku masih ada di hatimu?
Apa kenangan bersamaku masih tersimpan di ingatanmu?

Kamu,
Apakah akan tetap sama seperti dulu?
Apakah aku boleh berharap padamu?
Apakah aku boleh tetap mencintaimu?

P.S. Aku, yang tak henti merindumu.

Minggu, 10 April 2011

catatan kecil untuk kaum adam

Posted by Melinda Pradita at 02.40 1 comments
Seberapa jauh kau tahu tentang kebahagiaanku?
Berapa lama kau mengenalku sehingga kau tahu apa arti bahagia menurutku?
Menurutmu, apa saja yang mampu membuatku bahagia?
Dan menurutmu, kau kah orang yang mampu mengatur itu semua?


Different perspective between men and women on showing their thoughts would be something annoyed, I guess.

Saya jadi teringat cerita seorang teman saya beberapa bulan lalu yang dihentikan hubungannya secara sepihak (baca: diputus) oleh pacarnya dengan alasan klise.

“Because I’m too much making you sad. I’m not pretty good boyfriend for you. I don’t wanna make you feel pity anymore.”

Hellow?

Is it just a fire escape to jump out from the problem?

Oh man, that’s not the way…

Menurut saya, ada dua golongan cowok yang bisa berkata semacam itu pada ceweknya.

First group contains para cowok pengecut yang kehilangan kemampuan berterus terang untuk bilang bahwa mereka sebenernya udah nggak suka lagi sama ceweknya. Whatever the reason, bosen lah, nggak cocok, atau emang udah ada kecengan lain. Who knows? Yang jelas, they’re absolutely lack of braveness to tell their feeling.

Second group, silly boys yang menganggap mereka terlalu buruk untuk ceweknya because their girls often got sadness by them… Ya Tuhan, apa-apaan ini? Kalo emang udah ngerasa banyak salah ya perbaikin, dong… Caranya bukan dengan menyerah dan merasa nggak pantas dicintai lagi, kan?

Oh boys…

You don’t ever know how girls get mad by your statement about their happiness.

Memangnya cewek dijamin bakal lebih bahagia ketika kalian bilang divorce-statement semacam itu?

No, not at all.

You have to say the truth.

Kalau kalian memang merasa nggak bisa bertahan lagi di hubungan ini, just say it!
Jangan mengatasnamakan kebahagiaan kami, para wanita… That will be hurt in the beginning, tapi akan terasa jauh lebih baik nantinya because you’ve said the truth… So, don’t be a looser, tell us the truth, boys!

Dan kalau kalian memang merasa punya banyak salah with your girl, handle it, find the way out. Remember, divorcing isn’t the way to solve it. Bicara. Cerita. Show them your feeling, ask about their feelings. That’s what girl need, bukan suatu keputusasaan yang justru menjadikan hubungan makin berantakan, kan?

Well, saya membuat postingan ini bukan dalam rangka menghakimi siapa pun, tapi saya cuma ingin memperjelas apa yang ada di benak kami, para wanita, ketika para pria mulai menggunakan alasan-alasan klise bertemakan kebahagiaan untuk menutupi apa yang mereka rassakan. It’s just… not fair, right?

Saya melihat sendiri bagaimana seorang cewek justru merasa jauh lebih sedih ketika si cowok memutuskannya dengan alasan nggak-mau-menyakiti-lebih-dalam-lagi, dan unfortunately, saya juga mengalaminya sendiri. So I know surely how was it felt. Sakit dan… menggantung.

So, it’s just a note for boys or men, jangan lagi gunakan alasan kebahagiaan semacam itu hanya karena kalian belum tahu cara menyampaikan yang sebenarnya. We, as girls and women, just need the truth…

Sadly greet,

Mel

Jumat, 08 April 2011

koma

Posted by Melinda Pradita at 18.03 0 comments
Buatku, kamu itu koma. Bukan titik yang menandakan sesuatu telah mencapai antiklimaks dan akan segera berakhir. Bukan tanda tanya yang masih menyisakan setumpuk rasa penasaran karena belum terjawab.

Kamu itu koma.

Kamu dan aku itu koma.

Belum menemukan titik di mana seharusnya kita berhenti. Dan juga lebih dari sekedar tanda tanya karena aku dan kamu tidak lagi mempunyai setumpuk rasa penasaran yang begitu hebat berkecamuk di kepala.

Kamu dan aku itu koma.

Tergantung, tak pasti, berjalan, berhenti, berjalan lagi, berhenti kembali. Selalu seperti itu, kan?

Aku pernah menjadi tanda tanya bagimu.

Dan saat ini, aku pun koma bagimu, sepertimu yang menjadi koma bagiku.

Lalu,

Kapan aku mampu menjadi titikmu?

Senin, 14 Maret 2011

K.I.T.A

Posted by Melinda Pradita at 00.00 0 comments
Cerita indah kita. Masih begitu jelas terekam di kepala. Tentang aku, kamu, mereka. Tak henti kita tertawa. Bahagia. Berdua. Tanpa setetes air mata. Diiringi ribuan asa. Menerbangkanku menembus batas khayal dan nyata. Denganmu, aku teristimewa.

Kau pergi, tetap meninggalkan hati. Namun aku sendiri. Kosongkan sebagian ruang dalam diri. Tak mampu terisi. Tak dapat terganti. Hanya kamu yang dinanti. Hanya namamu yang terpatri. Aku merasa sepi. Tak sanggup berbagi. Kau bilang aku harus mengerti. Kau berikan sebongkah harap lagi. Tentang janji. Utarakan kau akan kembali.

Aku menunggu. Dalam rindu. Dalam pilu. Dalam ribuan cemas dan ragu. Merasa lemah dan muak dengan sikap hiperbolaku. Aku mengutuk dalam sendu. Bukan kamu, tapi diriku. Tak pernah salahkan cintamu, hanya pertanyakan cintaku. Aku terbuai masa lalu. Mengharap perputaran waktu. Tak mampu. Aku pun berlalu.

Aku gamang. Dengan sejuta dinamika yang tak mampu kutentang. Aku ingin pulang. Ke pelukanmu seorang. Namun takdirku melarang. Memaksaku terus berjalan, berlari, bahkan terbang. Tak hidup lagi dirimu dalam bayang. Aku disadarkan oleh terpaan badai yang berharap mampu membuatku sekuat batu karang. Hingga aku dapat menatap jalanan ini dengan tatapan nyalang.

Aku pernah bermimpi. Tentang aku, kamu, dan rasa di hati. Aku tau mimpi itu kelak akan terjadi. Suatu hari nanti. Hanya doa yang menjadi teman sejati. Menuntunku dalam risau yang tak bertepi. Aku tak ingin menangis lagi. Aku berdiri. Menghempaskan tubuhku melawan ribuan nyeri. Aku bosan merasa kosong tak terisi. Aku bangkit, mencari ribuan jawab yang aku cari. Hey,lihat diriku ini! Aku masih mampu berdiri tegak di sini, mempertahankan separuh hati. Aku menunggu dengan pasti. Bukan hanya kamu, tapi juga rencana indah Tuhan yang masih menjadi misteri.

Sabtu, 12 Maret 2011

Dynamic of Age

Posted by Melinda Pradita at 21.38 0 comments
Seorang gadis bisa menutupi segalanya layaknya seorang wanita dewasa. Namun entah mengapa, di mataku itu hanyalah sebuah kamuflase picik seorang gadis yang belum mampu mengakui semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Kuakui, ada kalanya suatu hal harus kita tutupi dari siapapun, tapi hanya beberapa, bukan semuanya.

Aku juga seorang gadis biasa. Namun entah kenapa, ada suatu perbedaan besar antara hidupku dan hidup gadis-gadis lain. Aku sudah memilih untuk bersikap jujur dalam mengarungi hidup ini. Jujur dalam kata-kata dan perbuatan. Jujur dalam pengakuan keinginan dan harapan.

Aku tidak ingin jadi munafik lagi. Seperti seorang gadis kecil yang selalu tersipu dan menggeleng manja padahal sebenarnya ia mau. Aku ingin belajar dewasa. Belajar mengungkapkan hal yang sejujurnya. Namun ingat, aku wanita. Aka nada hal-hal yang dengan jujur kukatakan siapapun tak boleh mengetahuinya, rahasia.

Aku tidak menuding siapapun dengan tindakan preventif mereka untuk berpura-pura. Buatku itu hak mereka. Aku hanya bilang, aku merasa jauh lebih nyaman dengan lingkungan yang apa adanya, yang tidak munafik terhadap hal yang sudah sangat jelas adanya.

Aku bukan sosok yang serius. Sungguh. Ini hanyalah tulisan kecil yang tidak mampu mendeskripsikanku seutuhnya. Aku tersenyum, tertawa, bahagia. Aku juga tidak ingin dinilai suram atau kaku hanya dari tulisan kecil ini.

Aku sudah bilang, aku ingin menjadi dewasa. Mungkin dengan cara yang sedikit berbeda. Mungkin. Atau… sebenarnya bukan dengan cara yang berbeda, namun kalian saja yang tidak mau mengakuinya?

Aku tersenyum membayangkan kalian saat membaca tulisan ini. Aku memang seperti ini. Dan aku sudah memutuskan untuk melangkah di suatu jalan. Tak apa bagiku menjadi berbeda, selama koridor perjalananku masih tegas batasnya.

Aku tau apa yang kulakukan. Aku sadar dan aku sedang berlatih untuk menjadi bertanggung jawab. Sedikit saja, aku ingin mengepakkan sayapku lebih jauh. Aku ingin menjadi dewasa dengan kejujuran yang aku punya.

Terrible's Day

Posted by Melinda Pradita at 21.37 0 comments
I just got an accident.

Crashed by car.

Bagian belakang kepala saya terbentur dan memar. Begitu juga bahu kiri saya. Kedua kaki saya juga full of pain-painting. Gosh…

Sakit sekali.

Saya sempat dirawat di rumah sakit selama dua hari.

Doctor said that I would be fine. Nothing’s gonna be worry. Baik kepala maupun bahu saya nggak ada yang retak atau patah. I should be happy for that.

But however, bagian belakang kepala saya masih benjol dan tangan kiri saya masih sulit untuk diangkat. Beberapa bagian tubuh lain juga masih terasa so damn painfull tentunya.

Sometimes, I hate myself for this reason.

Saya benar-benar membenci diri saya yang merepotkan orang lain seperti ini.

Tapi mau bagaimana lagi, God’s whole plan is absolutely absolute.

Jadi mungkin ini semacam kumpulan tugas yang Allah swt. berikan buat saya.

Tugas pertama jelas, saya harus latihan bersabar menghadapi semua kesakitan ini. Yah, saya nikmati saja. Toh sakit bisa menghapuskan dosa-dosa kita,kan…

Tugas kedua, saya harus tetap bersyukur bagaimanapun keadaan saya sekarang. Hey, I’m still alive even my head crashed something! And I’m fine too… sesuatu yang harus disyukuri,kan? Selain itu, saya jadi benar-benar menghayati salah satu semboyan yang bilang “sehat itu harta yang paling mahal harganya”. THAT’S REALLY TRUE!!!!

Next, tugas ketiga, saya belajar jadi pejuang yang tak kenal lelah dan selalu penuh semangat. Come on… Saya selalu terbangun dengan badan sakit semua and I totally have to be strong facing this day! Ayo… semangat untuk bergerak biar cepet sembuh,Mel!!!

Finally, yaa… saya harus menilik ulang diri saya, menginstropeksi lagi tentang semua yang ada dalam diri saya sampai jadi seperti ini. Mungkin memang ada yang harus dibenahi, baik dalam kata-kata, sikap, maupun pola pikir saya. Namanya manusia, human could always be related to fault…

Pada akhirnya kita ambil positifnya saja lah, yang namanya apes itu kan bisa datang sewaktu-waktu tanpa diduga, dan yang namanya takdir itu nggak bisa dihindari… So, how is the way out?

Ya sabar dan tawakkal…

Because God always be here… keep you so carefully… =D

Sabtu, 05 Maret 2011

I am.

Posted by Melinda Pradita at 02.23 0 comments
Who am I?

Simple question, but actually it has lot of meanings.
it's not only a fame statement from Jackie Chan, of course.
it's about ourself.
about how our defense on this world.
how we act to show our great performance to delight others...

so, inilah saya.
bukan cuma mengenalkan nama, alamat, tempat tanggal lahir, and other thing that actually can-be-known-by-seeing-my-identity-card.
ini tentang saya.
tentang siapa saya.
tentang apa yang saya sukai dan tidak.
tentang apa yang saya impikan.
tentang bagaimana impian saya bisa tercapai nantinya (amin)

tapi,
semua tentang saya itu tidak harus selalu dideskripsikan secara gamblang.
new style maybe, i wanna try to make it different.
dengan curhatan saya,
atau postingan cerita saya,
just it.


so,here I am.
define my self with new way,



regards,
mel

Kamis, 03 Maret 2011

Welcome...

Posted by Melinda Pradita at 18.00 0 comments
Voila...

Akhirnya bikin blog (lagi) juga...
Dasar masih bocah, ada aja kesalahan teknis dalam hal pengelolaan blog sebelum-sebelumnya,hehe

But actually,here I am.
New beginning
New life
New part
and of course...
it's the new me...


So just enjoy reading this guys! =D
 

Melicious Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea