Minggu, 10 April 2011

catatan kecil untuk kaum adam

Posted by Melinda Pradita at 02.40
Seberapa jauh kau tahu tentang kebahagiaanku?
Berapa lama kau mengenalku sehingga kau tahu apa arti bahagia menurutku?
Menurutmu, apa saja yang mampu membuatku bahagia?
Dan menurutmu, kau kah orang yang mampu mengatur itu semua?


Different perspective between men and women on showing their thoughts would be something annoyed, I guess.

Saya jadi teringat cerita seorang teman saya beberapa bulan lalu yang dihentikan hubungannya secara sepihak (baca: diputus) oleh pacarnya dengan alasan klise.

“Because I’m too much making you sad. I’m not pretty good boyfriend for you. I don’t wanna make you feel pity anymore.”

Hellow?

Is it just a fire escape to jump out from the problem?

Oh man, that’s not the way…

Menurut saya, ada dua golongan cowok yang bisa berkata semacam itu pada ceweknya.

First group contains para cowok pengecut yang kehilangan kemampuan berterus terang untuk bilang bahwa mereka sebenernya udah nggak suka lagi sama ceweknya. Whatever the reason, bosen lah, nggak cocok, atau emang udah ada kecengan lain. Who knows? Yang jelas, they’re absolutely lack of braveness to tell their feeling.

Second group, silly boys yang menganggap mereka terlalu buruk untuk ceweknya because their girls often got sadness by them… Ya Tuhan, apa-apaan ini? Kalo emang udah ngerasa banyak salah ya perbaikin, dong… Caranya bukan dengan menyerah dan merasa nggak pantas dicintai lagi, kan?

Oh boys…

You don’t ever know how girls get mad by your statement about their happiness.

Memangnya cewek dijamin bakal lebih bahagia ketika kalian bilang divorce-statement semacam itu?

No, not at all.

You have to say the truth.

Kalau kalian memang merasa nggak bisa bertahan lagi di hubungan ini, just say it!
Jangan mengatasnamakan kebahagiaan kami, para wanita… That will be hurt in the beginning, tapi akan terasa jauh lebih baik nantinya because you’ve said the truth… So, don’t be a looser, tell us the truth, boys!

Dan kalau kalian memang merasa punya banyak salah with your girl, handle it, find the way out. Remember, divorcing isn’t the way to solve it. Bicara. Cerita. Show them your feeling, ask about their feelings. That’s what girl need, bukan suatu keputusasaan yang justru menjadikan hubungan makin berantakan, kan?

Well, saya membuat postingan ini bukan dalam rangka menghakimi siapa pun, tapi saya cuma ingin memperjelas apa yang ada di benak kami, para wanita, ketika para pria mulai menggunakan alasan-alasan klise bertemakan kebahagiaan untuk menutupi apa yang mereka rassakan. It’s just… not fair, right?

Saya melihat sendiri bagaimana seorang cewek justru merasa jauh lebih sedih ketika si cowok memutuskannya dengan alasan nggak-mau-menyakiti-lebih-dalam-lagi, dan unfortunately, saya juga mengalaminya sendiri. So I know surely how was it felt. Sakit dan… menggantung.

So, it’s just a note for boys or men, jangan lagi gunakan alasan kebahagiaan semacam itu hanya karena kalian belum tahu cara menyampaikan yang sebenarnya. We, as girls and women, just need the truth…

Sadly greet,

Mel

1 comments:

Priambodo Gatot mengatakan...

woow...
inspired me, sebagai cowok.
mahasiswa eh mahasiswi komunikasi nya kliatan bgt lewat post nya, yg santai tp tajam point nya.
beda dengan SAYA -lawyer- yg kalo bicara ambigu lah dimana-mana, walau dengan regulasi turunan nini belanda tapi udah indonesia, katanya.
guess who?
well, good luck kuliah nya.
oh iya, soal truth..
the real truth is evidence, hehe

Posting Komentar

 

Melicious Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea