Minggu, 26 Juni 2011

Warm Qualm

Posted by Melinda Pradita at 21.48 0 comments
Menunggu itu membosankan buatku. Menunggu itu seperti menghitung kotak ubin dalam ruangan kamarku. Tak banyak sebenarnya, namun mampu membuatku merasa jengah dan berpikir dua kali untuk memulainya. Dan menunggumu itu seperti menghitung kotak ubin ballroom besar yang bahkan aku tak bisa menebak berapa luasnya. Aku enggan memulainya, tapi entah bagaimana nantinya tetap kulakukan juga.
Yang kurasakan padamu tak jauh berbeda sebenarnya. Sedikit bertanya-tanya tentang sikapmu, sedikit merasa aneh dengan perasaanku yang semakin tak menentu. Tapi toh aku tak beranjak pergi ketika aku bosan menunggumu. Lelah memang, namun rasanya ada sekelebat perasaan hangat yang menyelimutiku.
Jangan tanyakan tentang perasaan bimbangku terhadapmu. Jangan juga tanyakan ketidakmampuanku untuk menentukan sikap padamu. Benar aku bingung dan bimbang. Dan benar aku merasa sedikit dipermainkan.
Namun lucunya, aku tidak menolak perasaan ini yang sungguh tak beraturan.

Aku merasa hangat dan nyaman.

Sabtu, 25 Juni 2011

Malam ini. Kamu lagi.

Posted by Melinda Pradita at 11.01 0 comments
Lagi-lagi aku memikirkanmu di potongan kecil malam ini. Kusandarkan kepalaku di dinding kokoh bumi, lalu memandang langit yang seakan tak pernah memiliki tepi. Kamu lagi. Pasti. Meracuni malamku dengan semburat rindu dan ungkapan palsu. Melayani khayalku dengan segelintir harapan berbalut nada-nada pilu.
Aku mengusap kedua telapak tanganku yang mulai menggigil dan membiru. Bukan karena dinginnya malam yang semakin tak menentu. Aku merapatkan jaketku, bukan karena aku mengelak dari rasa ngilu yang merasuk tulangku. Dan aku melepaskan ikat rambutku, membiarkan rambutku jatuh perlahan satu demi satu, bukan pula untuk menutupi tengkukku yang berkali-kali dihujam udara bernapaskan salju. Lalu, untuk apa semua itu? Benar, aku sedang menarik perhatianmu malam ini padaku.
Lalu kamu. Berjalan pelan menghampiriku sambil tersenyum lugu. Membuat darahku berdesir lembut hingga tubuhku membatu. Kamu dengan pesonamu, dan aku yang tak mampu beranjak dari belenggu atmosfermu. Dan ketika tangan kita bertemu, aku tau. Aku tau ini adalah pertanda baru.
Aku kembali merapatkan jaket kulitku, menutup kesempatanmu untuk mengetuk pintu hatiku saat itu. Kamu tergelak pelan, kemudian berlalu sambil sesekali menoleh padaku. Aku tertawa memandangi punggungmu yang semakin menjauh dari hadapanku. Aku menghela napas getir, membayangkanmu. Iya. Malam ini. Kamu lagi.

Jumat, 24 Juni 2011

Insomnia

Posted by Melinda Pradita at 11.07 2 comments
Aku belum mengantuk. Malam ini masih panjang, kau pun belum pulang. Aku belum ingin tidur, aku sedang menunggumu kembali dari sederetan lelah harimu dan sekumpulan gadis-gadis barumu.
Mungkin saja kau membutuhkan tempat untuk meletakkan penatmu?
Mungkin saja kau menginginkan suasana baru yang sempurna menutup harimu?
Atau mungkin saja kau mencari sebuah kantong yang mampu menjadi tempatmu memuntahkan rasa sendu dan pilumu?
Saat itu kau boleh melihatku.
Kau boleh meminta seluruh waktuku untuk memperhatikanmu. Kau boleh memintaku untuk terus mencintamu. Kau pun boleh memintaku untuk menunggumu kembali dari sekumpulan gadis-gadismu.
Malam ini belum larut, dan kabar darimu tak juga datang. Aku menunggu, karena tak tau lagi apa yang bisa kulakukan. Aku memilin-milin rambutku, berharap mampu membunuh waktu. Aku melambungkan ingatanku padamu, merangkai cerita lucu tentang kita yang baru.
Kau pulang atau tidak? tanyaku dalam hati.
Dan aku masih menunggumu meski aku hapal kebiasaanmu yang tak akan kembali hingga esok hari. Benar, hanya sedikit waktu untukku karena duniamu telah begitu rancu bagiku. Ah, kau memang seperti itu.
Aku beringsut dari dudukku, membuka pintu bagi rasa kantuk untuk menghapiriku. Kau tak pulang,aku tau. Mungkin kau sedang bersama gadismu yang baru, yang kelak akan kau cintai sepenuh hatimu.
Aku tersenyum simpul membayangkan hal itu. Aku pun berjalan masuk dan menutup pintu kamarku. Kau tak pulang, aku tau. Aku pun melangkah perlahan ke arah tempat tidurku, berbaring untuk menutup penantianku hari ini padamu. Aku berbaring dan tak urung melihatnya mendengkur halus di sampingku.
Dia sudah tidur rupanya, batinku.
Aku kembali tersenyum kaku. Kukecup dia perlahan, membiarkannya menarikku ke dekap erat tubuhnya yang mampu menentramkanku. Kusesakkan kepalaku ke dadanya, mencoba menghirup aroma tubuhnya lebih dalam lagi. Hingga akhirnya, aku kembali menoleh ke pintu.
Pintu kamarku tetap tertutup. Kau tak pulang, kau sedang bersama gadis barumu.
Aku tersenyum membayangkanmu. Kantukku perlahan datang dan aku mengakhiri penantianku malam ini padamu. Aku membalikkan tubuhku dari pintu dan menatap senyum tulusnya padaku.
Aku membalasnya, kemudian memejamkan mata.
Kau, batinku. Sampai bertemu esok hari… :)

Sabtu, 18 Juni 2011

dan aku mengaku

Posted by Melinda Pradita at 18.49 0 comments
Sayangku, apa kabarmu? Masihkah kau sama seperti yang kukenal dulu? Masihkah kau menjadi sosok yang tak lelah bersaing dengan waktu untuk menuntunku?
Ataukah sisi dirimu telah berganti menjadi yang baru? Yang tak kukenal dan kelak akan membuat hatiku membiru?
Kau berlalu, begitupun aku. Kau tertawa, aku tersenyum palsu. Kau melangkah, aku mengekormu dalam gerutu. Kau menangis, aku merintih sendu. Sudahlah, sayangku. Kau tak perlu berhenti melangkah dan menengok ke arahku untuk memastikan keadaanku. Kakiku masih cukup kuat untuk berjalan walau tanpa genggam eratmu. Mataku masih sanggup melihat jalan yang mulus tidak berbatu. Tanganku pun masih cukup cekatan untuk meraih ranting atau apapun yang mampu kujadikan pegangan jika aku terpeleset dan jatuh. Kau tau itu bukan, sayangku?
Sayangku, kau tau aku mencintamu layaknya matahari dan waktu. Aku tak lelah mencintamu meski kau terus berjalan dan berlalu, sedangkan aku tetap diam memperhatikan tiap sudut gerakmu. Jangan tertawa, sayangku. Aku tau kau tak pandai bicara dan bermain kata tentang cinta, sehingga aku-lah yang akan memainkannya untukmu. Kau tak boleh meragukan rayuan dan kata-kata gombalku padamu :)
Sayangku, apa kabarmu? Kabarku buruk, teramat buruk. Aku mencintamu terlalu dalam dan tak tau bagaimana cara menghentikannya. Aku ingin marah tapi tak bisa. Aku ingin bicara namun kata-kataku lepas tak tertata. Tubuhku merapuh, seolah terhipnotis oleh pesonamu yang mampu membuatku menggelayut manja. Aku menjadi bodoh, pelupa, dan lumpuh. Keadaan yang mengenaskan bukan, sayangku?
Aku sedih, sayangku. Apa yang harus aku lakukan? Jika matahari harus selalu melihat sang waktu, tak begitu dengan aku. Aku ingin menjauh dan mengatur jarak padamu agar rasaku terbendung dan tertutup dari penglihatanmu. Aku malu, sayangku. Aku malu pada diriku, padamu, dan pada sang waktu.
Sayangku, apa kabarmu? Kau masih di situ, bukan? Hatiku mencelos dalam rindu untukmu, andai saja kau tau. Tapi aku tak ingin kau tau, aku ingin menyimpannya dalam ruang hatiku yang terdalam, yang bahkan tak akan bisa kukais lagi suatu hari. Sayangku, menengoklah padaku sesekali, perlihatkan senyummu yang dulu. Kau tau, kau selalu tau aku ada di belakangmu dan tak akan mengelak dari sambut tanganmu.
 

Melicious Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea