Sabtu, 24 Maret 2012

Halo, Tuan Keras Kepala!

Posted by Melinda Pradita at 11.33 0 comments
Halo, Tuan Keras Kepala!

Apa kabarmu di sana? Masihkah baik-baik saja?

Kuharap iya, karena kalau keadaanmu berubah menjadi buruk, kehidupanku juga akan sama suramnya.

Kau tahu, aku punya sebuah berita. Berita ini tidak bisa dibilang bagus sebenarnya, tapi cukuplah untuk membuatmu tersenyum dan mengurangi kerut-kerutan wajahmu yang semakin menua. Jangan tersinggung, memang benar kan kau sudah melewati kepala dua. Lagipula, kau tau aku sangat suka bercanda.

Kemarin sebuah kiriman datang padaku. Kau tahu apa isinya? Tentu saja tidak. Kau kan sedang sibuk mengurusi semua tetek bengek kehidupanmu di sana. Kehidupanmu yang baru. Kehidupanmu yang tidak lagi melibatkanku. Ah, sudahlah. Aku tidak mau menjadi melankolis. Kalau kau kembali nanti, kau harus melihat betapa bebal dan maskulinnya aku yang sekarang ini.

Baik, kita kembali lagi ke topik semula. Kau memang tidak akan pernah bisa menerka apa isi kiriman untukku itu. Kuberitahu. Isi kiriman itu adalah sepenggal masa lalu. Bukan, tentu saja bukan masa lalu yang menyenangkan seperti masa lalu kita –kalau memang masa lalu kita bisa disebut menyenangkan- melainkan masa lalu yang membuatku sedikit takut dan juga bingung.

Biar kujelaskan. Kau tentunya ingat aku punya sederetan nama lelaki di masa lalu. Nah, kenangan-kenangan itu berasal dari mereka! Ada yang datang sambil membawa isak tangisnya karena kutinggalkan, ada yang meminta maaf karena menjadikanku pelarian, ada yang menyatakan perasaannya lagi karena dulu dia kuabaikan, dan LAIN-LAINNYA. Bisa kaubayangkan bagaimana bingungnya aku menghadapi ini semua, Tuan Keras Kepala?

Kalau kau bertanya kenapa aku takut, mungkin aku harus mengguyurkan seember susu basi ke kepalamu supaya kau mengerti. TENTU SAJA AKU TAKUT! Coba pikirkan kenapa mereka mengirimiku semua itu? Tidakkah itu mengerikan? Maksudku, bisa saja niat mereka buruk –ingin balas dendam padaku, misalnya. Dan kalau kau bertanya kenapa aku bingung, jelas aku bingung karena sampai sekarang aku masih terus memikirkan bagaimana cara mereka mengirimiku semua kenangan itu SECARA BERSAMAAN. Kalau mereka memang benar-benar tulus dan serius ingin bersamaku lagi, kenapa mereka memilih saat ini? Apa kau juga memikirkan hal yang sama, wahai Tuan Keras Kepala?

Nah, aku sudah menceritakan apa yang aku alami belakangan ini padamu, Tuan Keras Kepala. Seharusnya setelah membaca surat ini kau tahu apa yang akan kau lakukan untuk membantuku. Kau harus berhenti berpikir ini adalah hal lucu karena aku SANGAT mengharapkan tindakan nyatamu untuk membantuku. Kau tentu tak mau aku jatuh ke tangan para lelaki kenangan itu bukan? Kau tau lah reputasi mereka dan kau tau lah aku ini sudah bebal cinta pada mereka semua.

Jadi, kumohon dengan sangat bantuanmu, Tuan Keras Kepala.

Tertanda,
Dari gadis yang menjadi bebal karena banyak belajar darimu.

NP. Aku lupa menuliskan kalimat ini: TOLONG KALI INI SAJA BERHENTILAH MENJADI KERAS KEPALA. Kalau kali ini kau masih juga keras kepala, kau tau kau akan sangat menyesal setelahnya.

Jumat, 16 Desember 2011

Manusia Kaca

Posted by Melinda Pradita at 06.36 0 comments
Aku ini kenapa?
Kadang begitu lihai menyembunyikan rasa
Kadang isi hatiku bisa dengan mudah terbaca
Aku ini kenapa?
Tertawa lepas sekencang-kencangnya
Sedetik kemudian menahan rasa marah di dada
Aku ini kenapa?
Memutuskan untuk tak acuh
Namun menangis ketika kau menjauh
Aku ini kenapa?
Seperti menjadi dua sosok yang berbeda
Seperti masih malas beranjak dewasa
Menjadi makhluk egois yang belum bisa berlapang dada
Aku manusia yang terbuat dari kaca
Menampilkan semua hal yang tak tertutup oleh warna
Menyambungkan ungkapan maya dan nyata.
Aku manusia yang terus saja sibuk menerka
Pada sisi mana aku hidup di dunia

Senin, 14 November 2011

:)

Posted by Melinda Pradita at 03.23 0 comments
"kamu bilang, kamu merasa sepi dan kedinginan.
lalu, bolehkah aku datang dan menghangatkan?"

Jumat, 11 November 2011

kamu, aku rindu

Posted by Melinda Pradita at 10.07 0 comments
" Jam berapa sekarang? Ayo tidur! Udah malem ini..."
" Nggak mau. Belum ngantuk."
" Emang lagi ngapain,sih? Ayolah, nurut sama aku... Nanti kamu sakit kalo tidur malem-malem terus..."

" Kamu ke Jawa Timur? Ke mana? Sama siapa? Ngapain?"
" Ke temen. Sendiri. Kok kamu tau?"
" Temen siapa? Ngapain? Kok nggak bilang sama aku???"

" Kamu lagi UTS, ya? Semangat! Jangan lupa makan..."
" Iya. Nanti dulu."
" Makan dulu... Nanti maag-nya kumat. Kalo udah makan, kan, belajarnya jadi lebih enak.."

" Lo, kok kamu malah jadi males belajar? Ayo dong, semangat... Kalo kamu ga semangat yang nyemangatin aku siapa? Aku besok kuis sama presentasi ini..."

" Jangan lupa, sholat, ya... Ngajinya udah?"
" Iya udah semua,kok."
" Pinteer... Kan kalo udah semua gitu jadi nggak ada beban lagi :)"

" Eh,aku tau kamu lagi marah, tapi barusan tante aku sms. Katanya jam 11 malem ini bakal ada radiasi apa gitu. Kalo bisa hp dimatiin, ya... Biar nggak kena radiasinya."

" Bapak kamu tukang 'nyeser ikan', ya?"
" Kok tau?"
" Karena kamu telah menjaring hatiku... Hahahahaha"


Kamu. Kamu. Kamu.
Sedang apa kamu di sana?
Cepat pulang.
Aku ingin cepat bertemu.

Kamu, aku rindu
* @RadioGalauFM: Jogja-Jakarta. Hati merana, jarak meraja.

Senin, 07 November 2011

Untukmu, Lelaki Kedua

Posted by Melinda Pradita at 00.26 4 comments
Belum genap setahun aku mengenalmu, tapi kisah tentangmu begitu erat membekas di kepalaku
Belum lengkap hatiku menuliskan namamu, kau selalu hadir tiap malam untuk memastikanku mengingatmu
Belum sempat aku mengucap terima kasih padamu, kau membantuku lagi tanpa menghiraukan siapa aku dan bagaimana masa laluku

Kau baik.
Sangat baik.
Untukku.
Atau untuk kita, jika memang kata itu akan terwujud nantinya.

Tapi aku tidak bisa
Aku tidak bisa bicara dan menatapmu seolah dalam diriku tidak terjadi apa-apa.
Aku tidak bisa berada di dekatmu tanpa punya jutaan rasa bersalah yang begitu mendera.
Aku tidak bisa melihatmu menatapku dalam dan menjanjikan kita akan baik-baik saja.
Dan aku tidak bisa membohongimu selamanya…

Kau baik.
Sangat baik.
Untukku.
Atau untuk kita, jika memang kata itu akan terwujud nantinya.

Aku suka berada di dekatmu, hanya itu saja.
Aku suka kita pernah berkenalan dan menjadi sedekat ini, itu saja.

Kau baik.
Sangat baik.

Tapi aku tidak bisa
Aku tidak bisa mengatakan ‘ya’ untuk sebuah kata cinta.
Aku tidak bisa berjanji untuk membantumu mewujudkan kata ‘kita’.
Dan aku tau aku berdosa jika harus membohongimu lebih lama.
 

Melicious Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea