Halo, Tuan Keras Kepala!
Apa kabarmu di sana? Masihkah baik-baik saja?
Kuharap iya, karena kalau keadaanmu berubah menjadi buruk, kehidupanku juga akan sama suramnya.
Kau tahu, aku punya sebuah berita. Berita ini tidak bisa dibilang bagus sebenarnya, tapi cukuplah untuk membuatmu tersenyum dan mengurangi kerut-kerutan wajahmu yang semakin menua. Jangan tersinggung, memang benar kan kau sudah melewati kepala dua. Lagipula, kau tau aku sangat suka bercanda.
Kemarin sebuah kiriman datang padaku. Kau tahu apa isinya? Tentu saja tidak. Kau kan sedang sibuk mengurusi semua tetek bengek kehidupanmu di sana. Kehidupanmu yang baru. Kehidupanmu yang tidak lagi melibatkanku. Ah, sudahlah. Aku tidak mau menjadi melankolis. Kalau kau kembali nanti, kau harus melihat betapa bebal dan maskulinnya aku yang sekarang ini.
Baik, kita kembali lagi ke topik semula. Kau memang tidak akan pernah bisa menerka apa isi kiriman untukku itu. Kuberitahu. Isi kiriman itu adalah sepenggal masa lalu. Bukan, tentu saja bukan masa lalu yang menyenangkan seperti masa lalu kita –kalau memang masa lalu kita bisa disebut menyenangkan- melainkan masa lalu yang membuatku sedikit takut dan juga bingung.
Biar kujelaskan. Kau tentunya ingat aku punya sederetan nama lelaki di masa lalu. Nah, kenangan-kenangan itu berasal dari mereka! Ada yang datang sambil membawa isak tangisnya karena kutinggalkan, ada yang meminta maaf karena menjadikanku pelarian, ada yang menyatakan perasaannya lagi karena dulu dia kuabaikan, dan LAIN-LAINNYA. Bisa kaubayangkan bagaimana bingungnya aku menghadapi ini semua, Tuan Keras Kepala?
Kalau kau bertanya kenapa aku takut, mungkin aku harus mengguyurkan seember susu basi ke kepalamu supaya kau mengerti. TENTU SAJA AKU TAKUT! Coba pikirkan kenapa mereka mengirimiku semua itu? Tidakkah itu mengerikan? Maksudku, bisa saja niat mereka buruk –ingin balas dendam padaku, misalnya. Dan kalau kau bertanya kenapa aku bingung, jelas aku bingung karena sampai sekarang aku masih terus memikirkan bagaimana cara mereka mengirimiku semua kenangan itu SECARA BERSAMAAN. Kalau mereka memang benar-benar tulus dan serius ingin bersamaku lagi, kenapa mereka memilih saat ini? Apa kau juga memikirkan hal yang sama, wahai Tuan Keras Kepala?
Nah, aku sudah menceritakan apa yang aku alami belakangan ini padamu, Tuan Keras Kepala. Seharusnya setelah membaca surat ini kau tahu apa yang akan kau lakukan untuk membantuku. Kau harus berhenti berpikir ini adalah hal lucu karena aku SANGAT mengharapkan tindakan nyatamu untuk membantuku. Kau tentu tak mau aku jatuh ke tangan para lelaki kenangan itu bukan? Kau tau lah reputasi mereka dan kau tau lah aku ini sudah bebal cinta pada mereka semua.
Jadi, kumohon dengan sangat bantuanmu, Tuan Keras Kepala.
Tertanda,
Dari gadis yang menjadi bebal karena banyak belajar darimu.
NP. Aku lupa menuliskan kalimat ini: TOLONG KALI INI SAJA BERHENTILAH MENJADI KERAS KEPALA. Kalau kali ini kau masih juga keras kepala, kau tau kau akan sangat menyesal setelahnya.
Feedjit
Sabtu, 24 Maret 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 comments:
Posting Komentar