Ada sedikit ragu ketika melihatmu. Antara takut, bingung, dan enggan yang bergumul menjadi satu.
Ada sedikit ragu ketika menyapamu. Menepis semua sapaan berbeda yang pernah kita gunakan dulu.
Ada sedikit ragu ketika menyentuh jabat tanganmu. Mengingat kembali sentuhan-sentuhan lugu yang hidup di masa lalu.
Sungguh, aku tak ingin seperti itu.
Aku ingin seperti ini.
Hanya seperti ini saja.
Tanpa ragu ataupun mengingat semua yang telah menjadi kenangan palsu.
Sayang, boleh aku berteriak?
Hanya kali ini saja.
Boleh, kan, sayangku?
Aku ingin kembali.
Aku ingin kembali.
Aku ingin kembali.
Aku ingin di sini. Denganmu. Sampai nanti.
Aku hanya ingin tetap seperti ini.
Kau dengar, sayang?
Aku di sini.
Aku tidak akan kemana-mana lagi.
Feedjit
Selasa, 23 Agustus 2011
Kamis, 18 Agustus 2011
mozaik
Aku meraba dadaku, mencoba menemukan hatiku. Aku mencarinya hingga ke tiap sudut yang mungkin belum bernama, namun aku tak juga menemukannya. Aku hampir menyerah. Aku hampir membiarkan hatiku tidak terjamah, bahkan oleh tanganku sendiri. Sampai kemudian aku merasakannya. Sungguh, aku merasakan denyutnya! Perlahan-lahan aku menariknya keluar dari tubuhku, kemudian memperhatikannya.
Ah, rupanya seperti ini bentuk hatiku. Hanya berupa lembaran kertas berwarna abu-abu yang terus berdenyut merdu. Dan kupicingkan untuk melihat lebih jelas lagi apa yang tertulis di hatiku.
Aku melihatnya! Aku memekik gembira! Aku melihat namamu di hatiku yang abu-abu. Aku tersenyum. Aku bahagia. Ternyata benar. Ternyata ada namamu yang tertulis di sana. Ternyata usahaku mencari hati tidak sia-sia.
Lalu aku membawa hatiku kepadamu. Aku ingin menunjukkan bahwa namamu terukir di situ. Aku begitu ingin melihatmu menerima hatiku. Maka aku mengetuk pintu rumahmu, merapikan kembali lembaran hatiku yang telah kubungkus dengan kain berwarna biru. Untukmu. Ya, hati ini untukmu.
Kau datang. Aku menggenapkan semua keberanian untuk menyerahkan hadiah hatiku. Aku memberikannya padamu sambil menunduk malu. Aku menunggu, menunggu kau mengatakan sesuatu tentang hatiku.
Kau hanya diam. Sebentar. Kemudian, kau melakukannya. Kau melakukannya di depanku tanpa mengindahkan tatapan nanarku. Kau melakukannya tanpa mendengarkan terlebih dahulu denyut merdu hatiku. Kau melakukannya tanpa melihat ada namamu yang terukir di hatiku. Kau menyobeknya. Kau menyobek hatiku menjadi serpihan kecil tak beraturan yang awalnya melayang di udara, kemudian berjatuhan tak beraturan di sekitar kakiku yang mulai goyah melihat semuanya.
Lalu, kau pergi.
Aku menahan air mata. Aku menunduk dan melihat serpihan hatiku yang telah kau campakkan begitu saja. Aku memungutnya. Satu demi satu. Helai demi helai. Aku tahu aku butuh waktu lama. Tapi aku tidak mau hatiku terbuang sia-sia! Aku ingin hatiku kembali. Aku ingin bisa merasakan denyut merdunya dan menuliskan sesuatu di lembarannya lagi!
Kukumpulkan semua serpihan hatiku, kubawa pulang. Aku berlari mencari lem terbaik untuk merekatkannya kembali. Merekatkan potongan-potongan tak beraturan rumit yang membuatku mengernyitkan dahi. Aku ingin marah padamu! Sungguh, aku ingin melampiaskan kemarahanku dengan memakimu. Sayangnya aku tak bisa. Serpihan hatiku terlalu lemah dan ringkih untuk memakimu, bahkan untuk sekedar menuliskan namamu kembali.
Aku menangis sambil menyatukan kembali semua serpihan kecil hatiku menjadi lembaran kertas abu-abu yang dulu. Lama, hingga akhirnya aku sadar tidak ada lagi serpihan kecil yang tersisa.
Aku mengamati lembaran hatiku yang baru. Berbeda… Kenapa? Bahkan ketika aku sudah mencoba merekatkan dan mengobatinya, kenapa tidak juga bisa seperti semula? Aku terduduk lemas memandangi hatiku, berharap lama-kelamaan lembarannya bisa menjadi utuh seperti dulu.
Lalu, aku melihatnya. Ya. Namamu masih tertulis di sana. Aku mengambil penghapus untuk menghilangkannya. Aku menghapusnya. Dan benar saja, ketika penghapus itu kugesekkan ke lembaran hatiku, serpihannya kembali berhamburan.
Aku menghela napas, kemudian mengulang lagi usahaku untuk menyatukannya kembali.
Bahkan saat hatiku sudah terlalu terluka seperti inipun, aku masih belum mampu menghapuskan namamu…
Ah, rupanya seperti ini bentuk hatiku. Hanya berupa lembaran kertas berwarna abu-abu yang terus berdenyut merdu. Dan kupicingkan untuk melihat lebih jelas lagi apa yang tertulis di hatiku.
Aku melihatnya! Aku memekik gembira! Aku melihat namamu di hatiku yang abu-abu. Aku tersenyum. Aku bahagia. Ternyata benar. Ternyata ada namamu yang tertulis di sana. Ternyata usahaku mencari hati tidak sia-sia.
Lalu aku membawa hatiku kepadamu. Aku ingin menunjukkan bahwa namamu terukir di situ. Aku begitu ingin melihatmu menerima hatiku. Maka aku mengetuk pintu rumahmu, merapikan kembali lembaran hatiku yang telah kubungkus dengan kain berwarna biru. Untukmu. Ya, hati ini untukmu.
Kau datang. Aku menggenapkan semua keberanian untuk menyerahkan hadiah hatiku. Aku memberikannya padamu sambil menunduk malu. Aku menunggu, menunggu kau mengatakan sesuatu tentang hatiku.
Kau hanya diam. Sebentar. Kemudian, kau melakukannya. Kau melakukannya di depanku tanpa mengindahkan tatapan nanarku. Kau melakukannya tanpa mendengarkan terlebih dahulu denyut merdu hatiku. Kau melakukannya tanpa melihat ada namamu yang terukir di hatiku. Kau menyobeknya. Kau menyobek hatiku menjadi serpihan kecil tak beraturan yang awalnya melayang di udara, kemudian berjatuhan tak beraturan di sekitar kakiku yang mulai goyah melihat semuanya.
Lalu, kau pergi.
Aku menahan air mata. Aku menunduk dan melihat serpihan hatiku yang telah kau campakkan begitu saja. Aku memungutnya. Satu demi satu. Helai demi helai. Aku tahu aku butuh waktu lama. Tapi aku tidak mau hatiku terbuang sia-sia! Aku ingin hatiku kembali. Aku ingin bisa merasakan denyut merdunya dan menuliskan sesuatu di lembarannya lagi!
Kukumpulkan semua serpihan hatiku, kubawa pulang. Aku berlari mencari lem terbaik untuk merekatkannya kembali. Merekatkan potongan-potongan tak beraturan rumit yang membuatku mengernyitkan dahi. Aku ingin marah padamu! Sungguh, aku ingin melampiaskan kemarahanku dengan memakimu. Sayangnya aku tak bisa. Serpihan hatiku terlalu lemah dan ringkih untuk memakimu, bahkan untuk sekedar menuliskan namamu kembali.
Aku menangis sambil menyatukan kembali semua serpihan kecil hatiku menjadi lembaran kertas abu-abu yang dulu. Lama, hingga akhirnya aku sadar tidak ada lagi serpihan kecil yang tersisa.
Aku mengamati lembaran hatiku yang baru. Berbeda… Kenapa? Bahkan ketika aku sudah mencoba merekatkan dan mengobatinya, kenapa tidak juga bisa seperti semula? Aku terduduk lemas memandangi hatiku, berharap lama-kelamaan lembarannya bisa menjadi utuh seperti dulu.
Lalu, aku melihatnya. Ya. Namamu masih tertulis di sana. Aku mengambil penghapus untuk menghilangkannya. Aku menghapusnya. Dan benar saja, ketika penghapus itu kugesekkan ke lembaran hatiku, serpihannya kembali berhamburan.
Aku menghela napas, kemudian mengulang lagi usahaku untuk menyatukannya kembali.
Bahkan saat hatiku sudah terlalu terluka seperti inipun, aku masih belum mampu menghapuskan namamu…
Categories
aku?
Jumat, 12 Agustus 2011
Sedikit Rindu Untukmu
Ada sedikit rindu untumu. Rindu yang belum terkikis oleh waktu ataupun kisah-kisah baru yang menghampiriku. Sesekali aku menyapa bayangmu. Semu. Dan tentu saja, tidak akan pernah kau jawab. Iya, aku tahu. Bukannya kau tak mau, hanya saja kau memang tak tahu. Kau tidak pernah kuizinkan untuk tahu.
Aku tidak sedang menatapmu, hanya melirikmu dari kerlingan kecil mataku. Hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Hanya ingin melihat senyum lucumu yang sempat membuatku terpesona. Hanya ingin meyakinkan diriku kau bahagia.
Sedikit, rasa rindu ini memang kusisakan untukmu. Supaya lembaran cerita kita masih tersimpan rapi di benakku. Kelak akan kuceritakan kembali padamu agar kau tertawa. Agar kau mengingat kembali apa yang pernah kita punya.
Jangan pernah katakan padaku tentang perasaan itu. Perasaan yang mampu membuat kita menjadi semakin dekat atau justru menjauh karena ragu. Sedikit rindu ini kusisakan untukmu bukan untuk menciptakan hal buruk semacam itu.
Sedikit rindu ini akan selalu kusisakan untukmu.
Agar kau tetap di situ. Kau dan aku tetap berada di jarak yang kita janjikan di masa lalu.
Aku tidak sedang menatapmu, hanya melirikmu dari kerlingan kecil mataku. Hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Hanya ingin melihat senyum lucumu yang sempat membuatku terpesona. Hanya ingin meyakinkan diriku kau bahagia.
Sedikit, rasa rindu ini memang kusisakan untukmu. Supaya lembaran cerita kita masih tersimpan rapi di benakku. Kelak akan kuceritakan kembali padamu agar kau tertawa. Agar kau mengingat kembali apa yang pernah kita punya.
Jangan pernah katakan padaku tentang perasaan itu. Perasaan yang mampu membuat kita menjadi semakin dekat atau justru menjauh karena ragu. Sedikit rindu ini kusisakan untukmu bukan untuk menciptakan hal buruk semacam itu.
Sedikit rindu ini akan selalu kusisakan untukmu.
Agar kau tetap di situ. Kau dan aku tetap berada di jarak yang kita janjikan di masa lalu.
Categories
aku?
Langganan:
Postingan (Atom)